Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembalut Alami dari Serat Pisang

Serat pisang memiliki banyak kegunaan, salah satunya adalah sebagai bahan dasar membuat pembalut. Pembalut dari serat pisang adalah pembalut alami sehingga tidak meninggalkan polusi bagi lingkungan.

pembalut serat pisang

Banyak sekali pohon pisang yang tumbuh di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan. Pisang tumbuh di pekarang rumah, di halaman belakang rumah, di kebun, di hutan atau dipinggir jalan.

Sebagian besar pisang tersebut dimanfaatkan buahnya untuk dijual. Dari buah pisang tersebut, biasanya diolah menjadi berbagai makanan seperti pancake, keripik, atau jenis banyak makanan lainnya.

Tapi pemanfaatan bagian pohon pisang lain masih sedikit. Paling banter, pemanfaatan pohon atau batang pisang adalah untuk membuat pupuk atau untuk campuran pakan menthok (itik).

Beberapa memang ada yang memanfaatkannya untuk menjadi tali, sebagai dasar kerajinan anak sekolahan yang kurang bernilai ekonomi, atau hanya dibiarkan membusuk saja. 

Di India, sebuah ide cerdas lahir. Kristin Kagetsu membuat pembalut yang berfungsi sebagai peralatan sanitasi kesehatan perempuan yang berasal dari serat pohon pisang.

Berikut ini adalah kisahnya

Kesadaran memakai pembalut yang kurang

Dalam sebuah survei yang dilaksanakan oleh Nielsen, CNN melaporkan bahwa hanya sekitar 12 persen perempuan India yang menggunakan pembalut saat terjadi datang bulan atau menstruasi.

Itu merupakan riset yang dilakukan pada tahun 2011. Di tahun-tahun setelahnya, penggunaan pembalut bagi perempuan India itu kemudian meningkat 16 persen.

Angka tersebut masih terbilang rendah karena jumlah populasi India yang mencapai miliaran jiwa.

Perempuan India lebih sering menggunakan kain dan lap saat terjadi menstruasi. Kain atau lap itu kemudian dibuang atau dicuci lalu dijemur untuk dipakai kembali di bulan berikutnya.

Masih menurut CNN, beberapa bahkan kadang-kadang ada yang menggunakan kulit pohon, daun atau abu arang yang dapat menyebabkan infeksi.

Pembalut atau perlengkapan menstruasi lainnya banyak digunakan oleh kaum elit dan masyarakat secara luas belum mendapatkan penetrasi penuh apa pentingnya produk sanitasi tersebut.

Ide membuat pembalut alami dari serat pisang

Ada beberapa masalah mengapa perempuan India belum secara luas menggunakan pembalut ketika menstruasi. Salah dua masalah tersebut adalah mahalnya harga pembalut dan menstruasi adalah tabu.

Karena sebab inilah, Kristin Kagetsu yang lulus dari MIT Amerika Serikat, pulang ke India dan membuat pembalut dari serat pisang yang alami, sehingga tidak menyebabkan sampah karena dapat terurai dengan baik.

Dia dan rekan-rekannya membangun perusahaan rintisan bernama Saathi Pads. Perusahaan ini membuat pembalut dari serat pohon pisang dan memiliki tekad untuk menjualnya di daerah pedesaan dengan biaya yang murah.

Gagasan awalnya sebenarnya bukan membuat pembalut tetapi membuat mesin yang bisa digunakan untuk membuat pembalut dan menjualnya ke kelompok swadaya desa. Tujuannya agar mereka dapat memproduksi pembalutnya sendiri.

Mengapa serat pisang?

Ada beberapa alasan mengapa serat dari pohon pisang dipilih. Serat ini memiliki daya serap yang tinggi, bakan terkadang bisa lebih tinggi dari pembalut yang dibuat dari dasar bahan plastik yang dicampur kapas.

Selain itu, pembalut serat pisang alami dan dapat terurai secara hayati, membusuk dengan mudah ketika berada di lingkungan alam liar. 

Hal yang paling penting lagi, India adalah salah satu penghasil pisang terbesar di dunia. Para petani biasa membuat pohon pisang setelah buahnya dipanen.

Dengan adanya ide pembuatan pembalut dari serat pisang, maka saat ini para petani di India memiliki aliran pendapatan tambahan untuk menjual pohon pisangnya setelah dipanen.

Jalan panjang pembalut serat pisang

Saathi Pads sebagai salah satu penggagas awal pembalut dari serat pohon pisang di India, telah memiliki gagasan itu sejak tahun 2009 lalu. Tapi baru pada tahun 2016 mereka benar-benar mulai menjual produk tersebut.

Beberapa kendala yang dihadapi adalah birokrasi yang rumit yang kadang berupaya menjegal jika tidak memberikan suap. Lalu perancang mesin yang sudah dibayar, tapi membuat mesinnya salah. Ironisnya, si perancang tidak bertanggung jawab mengganti uang tersebut.

Ada juga hambatan seperti mencari tenaga kerja yang tidak konsisten, yang sesuka hati mencari pekerja lain untuk menggantikannya.

Masalah paling besar adalah edukasi penggunaan pembalut yang tepat, dan kesadaran pentingnya pembalut bagi perempuan.

Masalah menstruasi yang dianggap tabu, membuat anak-anak perempuan membolos sekolah ketika datang menstruasi sehingga pendidikan mereka terganggu. Karena itu, pembalut bisa jadi solusi agar anak-anak perempuan dapat tetap hadir di kelas ketika mereka mengalami menstruasi.

Saat ini sudah banyak perusahaan rintisan lain di India yang membuat pembalut berdasarkan serat pohon pisang. Selain India, di Afrika, tepatnya di Rwanda, ide membuat pembalut dari serat pisang juga telah ada sebagai solusi untuk para perempuan di negara tersebut.

Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Pembalut Alami dari Serat Pisang"