Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keren! Di Rwanda, Serat Pisang Jadi Pembalut Alami

Serat pisang atau pohon pisang memiliki banyak kegunaan. Umumnya itu digunakan bahan dasar tekstil guna membuat kain. Tapi di Rwanda, serat pohon pisang diubah menjadi pembalut alami. Inovasi itu luar biasa dan bisa jadi inspirasi bagi dunia.


(Pexels.com/Karolina Grabowska)

Ada banyak kegunaan pisang dan pohonnya dalam kehidupan manusia. Di berbagai belahan dunia, penggunaan serat pohon pisang, atau pohon pisang itu sendiri, bisa bermacam-macan dan bisa sangat menginspirasi.

Serat pohon pisang sebelumnya terkenal sebagai bahan dasar tali dan bahan dasar tekstil. Ini umum ditemukan di Filipina dengan pisang khusus jenis Abaka. Serat ini menjadi salah satu serat alami terkuat di dunia.

Tapi di Rwanda, Afrika Timur, serat pohon pisang diubah dan dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan pembalut alami dan menyehatkan untuk perempuan. Ini semua berdasarkan gagasan tentang menstruasi yang tabu untuk dibicarakan di daerah Afrika, khususnya di negara tersebut.

Selain itu, pembalut biasa harganya mahal dan gaji atau anak sekolah tidak cukup uang untuk membelinya.

Pembalut alami serat pohon pisang itu mulai diproduksi secara massal pada tahun 2008 lalu. Sampai saat ini pembalut tersebut terus dibuat dan digunakan serta berguna bagi banyak perempuan Afrika.

Pembuatan Pembalut Serat Pohon Pisang

(Pexels.com/Sora Shimazaki)

Sosok yang paling patut dibicarakan dalam pembuatan pembalut alami serat pohon pisang yang ramah lingkungan adalah Elizabeth Scharpf. Dia mendirikan usaha sosial bernama Sustainable Health Enterprise (SHE) pada tahun 2008 untuk memproduksi pembalut alami serat pohon pisang ramah lingkungan.

Dia adalah perempuan yang berasal dari New Jersey, Amerika Serikat. Dia lulusan Harvard University pada tahun 2007. Pernah bertahun-tahun belajar sistem kesehatan di Austria dan di bidang farmasi global, dia bahkan meraih gelar di Sekolah Pemerintahan John F. Kennedy.

Idenya membuat pembalut alami berbahan serat pohon pisang terjadi pada saat waktu luang, ketika Scharpf magang di Bank Dunia di Mozambik, Afrika timur.

Latar Belakang Terciptanya Pembalut Serat Pohon Pisang

(Pexels.com/Sarah Chai)

Mengapa sosok Elizabeth Scharpf, seorang lulusan Harvard itu pada akhirnya memiliki gagasan untuk membuat pembalut alami serat pohon pisang yang ramah lingkungan?

Ketika dia magang di Mozambik, dia sering menemukan fakta bahwa gadis-gadis di negara itu kerap bolos sekolah. Para perempuan juga bolos kerja.

Sebabnya mereka tidak mampu membeli pembalut. Harga satu pembalut di sana lebih mahal dan tidak sesuai dengan penghasilan mereka.

Menurut Huffington Post20 persen karyawan di sana tidak masuk kerja hingga 30 hari setahun karena kurangnya pasokan pembalut. Gadis-gadis tidak masuk sekolah sebanyak 50 hari setahun karena alasan yang sama.

Berdasarkan itu, dia punya dua solusi, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Solusi jangka pendek berarti dia akan mencari badan amal untuk menyediakan pembalut secara gratis.

Solusi jangka panjang berarti dia harus bisa membuat pembalut yang murah dengan teknologi berkelanjutan berbahan dasar alami.

Akhirnya dia memilih solusi jangka panjang. Scharpf melakukan penelitian, menghubungi dan meminta nasihat dari para ilmuwan, insinyur, ahli pertanian dan menuju ke Rwanda dari Amerika Serikat.

Kenapa Memilih Membuat Pembalut Serat Pohon Pisang Di Rwanda?


Elizabeth Scharpf awalnya melihat masalah tentang mahalnya pembalut di Mozambik yang membuat perempuan tidak mampu membelinya sehingga harus membolos sekolah dan kerja. Tapi dia tidak melanjutkan inovasinya di Mozambik, melainkan Rwanda.

Rwanda menjadi pilihan karena populasi, kemudahan bisnis, dan kebijakan ramah perempuan. Dia menuju Rwanda dan akhirnya menciptakan pembalut inovatif dan terjangkau tersebut.

"Saya pergi ke Rwanda dengan dua mahasiswa teknik, tape recorder, dan blender genggam. Kami menguji semua serat alami yang berbeda dan menemukan serta mematenkan proses untuk mengubah serat pisang menjadi bahan penyerap" kata Scharpf.

Tempat produksi awalnya di Ngoma, Rwanda timur. Perusahaan SHE itu kemudian melobi pemerintah untuk mengurangi pajak 18 persen dari satu bungkus pembalut dan kemudian mendistribusikannya pembalut lokal, yang ramah lingkungan, dan harga terjangkau itu ke sekolah-sekolah. 

Scharpf yang mendirikan SHE, akhirnya dapat menyediakan ratusan pekerjaan dan peluang pendapatan serta pada tahun 2016 telah berhasil menjual lebih dari 100 ribu pembalut.

Pembalut Serat Pohon Pisang Melawan Kemustahilan

(Pexels.com/Cliff Booth)

Uji coba Elizabeth Scharpf adalah memblender bahan alami apa pun yang bisa menjadi serat. Langkah selanjutnya mengeringkan serat itu, lalu menggunakan cola untuk menguji apakah serat tersebut dapat meresap.

Serat pohon pisang yang banyak di Rwanda rupanya memiliki kelebihan itu, selain kemampuan serap yang bagus dan jumlah bahannya yang melimpah.

Bahkan kemudian dalam pembuatan pembalut serat pohon pisang itu, Scharpf berhasil meminimalisir pembuatan pembalut alami serat pohon pisang dengan hanya sedikit konsumsi air dan listrik. Pembalut alami itu akhirnya dibuat dengan teknologi yang paling ramah lingkungan, dengan hasil yang ramah lingkungan pula.

Begitulah kisah inspiratif pisang dari Rwanda. Jangan lewatkan juga cerita pohon pisang sebagai bahan tekstil dan kertas di Uganda.

Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Keren! Di Rwanda, Serat Pisang Jadi Pembalut Alami"