Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pisang dan Rasisme dalam Sepakbola

Ada banyak tindakan rasis yang terjadi di dunia ini. Dan buah pisang juga sering dijadikan sebagai sebuah simbol ejekan rasisme. Istilah pisang, melempar pisang atau kulitnya ke seseorang dengan niat rasisme, sering terjadi khususnya di dunia olahraga sepakbola.

pisang, rasis, rasisme, sepakbola
(Pexels.com/Alexandr Podvalny)

Pisang sering dijadikan sebagai bahan untuk mengejek orang-orang kulit hitam atau orang-orang Asia-Amerika di Amerika Serikat. Ini terjadi di banyak kesempatan, tapi sering terlihat dan dilaporkan dalam dunia olahraga, khususnya di pertandingan sepakbola.

Dasar utama rasis menggunakan pisang atau kulit pisang adalah pemahaman sembrono. Gorila atau monyet sering diasosiasikan menyukai dan mengonsumsi buah pisang.

Melempar pisang atau kulit pisang ke pemain bola, atau olahragawan kulit hitam, dianggap sebagai ejekan yang merendahkan. Ini seakan-akan mengejek pemain bola atau olahragawan tersebut seperti gorila atau monyet.

Berikut ini beberapa kejadian rasisme menggunakan buah dan kulit pisang dengan maksud mengejek seseorang, bahkan bintang-bintang olahragawan terkenal.

Dani Alves Dilempar Pisang oleh Pendukung Villareal

pisang, rasis, rasisme, sepakbola, dani alves
(Instagram.com/danialves)

Dani Alves adalah pemain sepakbola dari Brasil. Ia menjadi bintang lapangan bersama klub Spanyol, FC Barcelona. Bersama dengan klub tersebut, Alves meraih banyak hal, termasuk kemapanan dan keterkenalan.

Namun, meskipun dirinya handal di lapangan, tetap saja ada para penggemar fanatik sepakbola yang bertindak rasis terhadapnya. Itu hanya karena alasan berbeda ras atau mungkin karena iri sebab tidak dapat bermain dengan bagus seperti dirinya.

Pada tahun 2014, ketika akan mengambil tendangan sudut saat melawan Villareal, dia dilempar dengan buah pisang. Tapi dengan santainya Alves mengupas kulit dan kemudian memakan pisang tersebut. Alves paham itu adalah ejekan, tetapi dia menanggapinya dengan santai.

Usai pertandingan tersebut, ketika ditanya mengapa memakan buah pisang itu dalam sebuah wawancara, Alves menjawab "Anda harus menanggapi keprimitifan ini dengan humor," katanya dikutip Al Jazeera.

Bagi Dani Alves, ejekan dengan melempar pisang kepadanya adalah tindakan primitif dan terbelakang.

Setelah kejadian tersebut, simpati kepada Alves sangat besar di media sosial. Banyak tokoh papan atas kemudian mengunggah postingan dengan memegang atau memakan pisang untuk memberi dukungan. Itu juga dilakukan oleh Neymar, rekan senegara Alves.

Pemain AC Milan Dilempar Pisang oleh Pendukung Atalanta

pisang, rasis, rasisme, sepakbola, ac milan, kevin constant
(Unsplash.com/Thoma Serer)

Setelah dari Liga Spanyol, kejadian juga menimpa di Liga Italia pada tahun 2014. Pemain AC Milan bernama Kevin Constant dilempar dua buah pisang oleh pendukung Atalanta dari tribun.

Constant kemudian menunjukkan dua buah pisang itu kepada offisial, sebagai bukti bahwa para pendukung Atalanta melakukan aksi yang tidak terpuji.

Lewat pengeras suara, para penonton di stadion kemudian mendengar pengumuman bahwa jika aksi seperti itu berlanjut, maka pertandingan tersebut akan ditangguhkan.

Atalanta menang dalam pertandingan itu. Tapi manajer Stefano Colantuono kecewa karena perilaku pendukung timnya. Dia mengatakan "siapa pun yang melempar pisang ke lapangan pantas mendapatkan kelapa (untuk) dilemparkan kembali ke mereka."

"Mereka telah merusak sore yang menyenangkan," tambahnya.

Aubameyang Dilempar Kulit Pisang

pisang, rasis, rasisme, sepakbola, aubameyang
(Instagram.com/auba)

Empat tahun berselang setelah kejadian menimpa Dani Alves dan Constant, di Liga Inggris korban rasisme adalah Pierre-Emerick Aubameyang, pemain Arsenal dari Gabon, Afrika. Saat itu Arsenal sedang melawan Tottenham.

Usai mencetak gol ke gawang Tottenham, ada seorang penggemar yang kemudian melempar kulit pisang ke dekat Aubameyang. Nama penggemar itu adalah Averof Panteli.

Panteli kemudian disidang oleh pengadilan dan dilarang mengikuti kegiatan berbau sepakbola selama empat tahun. Selain itu, dia juga mendapatkan denda sebanyak 500 pounsterling atau sekitar Rp9,6 juta.

Dilansir The Guardian, Panteli menyangkal bahwa ketika dia melempar kulit pisang tersebut dengan niat rasisme. Namun hakim mengatakan ada unsur rasial dalam insiden tersebut.

Rasisme Pisang Sejak Lama

pisang, rasis, rasisme, sepakbola, john barnes
(Unsplash.com/Yoko Correia Nishimiya)

Jika tiga peristiwa tersebut adalah kejadian di tahun 2000-an, sebenarnya tindakan atau aksi rasisme di lapangan sepakbola telah terjadi selama puluhan tahun. Pada puncaknya, itu berlangsung antara tahun 1970-an sampai 1980-an.

Salah satu pemain bola yang jadi sasaran rasisme adalah John Barnes, yang bermain untuk klub Liverpool. Barnes saat itu dilempar kulit pisang dari tribun sebagai ejekan untuk dirinya oleh pendukung Everton pada tahun 1988.

Tapi dia kemudian menendang ke belakang kulit pisang tersebut.

Fotografer berhasil mengabadikan peristiwa cepat itu dan foto Barnes menyepak kulit pisang dengan kakinya, sering terlihat sebagai pengingat ketika ejekan rasisme terus berulang di Inggris.

Dilansir BBC, ketika Barnes ditanya tentang pelecehan rasial yang diterima oleh Raheem Sterling, dia menjelaskan "itu tidak mengejutkan saya karena orang kulit hitam melewati kulit pisang yang tak terlihat yang dilemparkan ke arah mereka dan pelecehan rasial yang tak terucapkan setiap hari dalam hidup mereka."

Di Belanda, Ejekan Rasis Pakai Pisang Juga Terjadi

pisang, rasis, rasisme, sepakbola, ajax, russia, belanda
(Pixabay.com/Security)

Seakan-akan, tindakan rasisme dengan mengejek pemain berkulit gelap atau hitam terus terjadi di Eropa, tidak hanya di Spanyol, Italia atau Inggris. Di Belanda, peristiwa ejekan dengan melempar pisang dengan niat rasis juga muncul.

Johan Kappelhof yang pernah bermain untuk Ajax Amsterdam, saat itu sedang akan melakukan pertandingan dengan Feyenord, musuh bebuyutan Ajax. 

Dia mengaku saat itu masih berusia antara 17-18 tahun. Ketika memasuki lapangan, para pendukung tim lawan melemparkan caci maki dan juga melemparkan pisang ke rekan-rekan satu timnya.

Menurut Chicago Tribune, saat pulang dari pertandingan tersebut, di dalam bis mereka membahas peristiwa tersebut dan menanggapi ejekan rasisme itu dengan tertawa.

Peristiwan rasisme dengan menggunakan pisang sebagai simbol ejekan untuk menyamakan seorang pemain bola seperti monyet, telah jadi wabah di Eropa. Bahkan setingkat Roberto Carlos juga pernah mendapatkan perlakuan tersebut.

Carlos ketika bermain di klub premier Rusia saat itu keluar dari lapangan setelah seseorang dari tribun melemparkan pisang ke arahnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2011.

Upaya untuk terus memerangi tindakan rasisme terus dilakukan oleh FIFA. Denda, skorsing dan lainnya sudah dilakukan tapi rasisme masih terjadi.

Meski pisang sudah cenderung jarang dijadikan sebagai bahan ejekan, tapi penyakit satu ini masih diyakini bercokol di pikiran para fanatik yang tak tahu diri.

Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Pisang dan Rasisme dalam Sepakbola"