Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Uganda, Pohon Pisang Disulap Jadi 'Paper Bag' dan Bahan Tekstil

Kreatifitas manusia itu tanpa batas. Di Uganda, orang-orang di sana telah menemukan peluang legit memproduksi pohon pisang jadi paper bag. Bisnis itu dilakoni dengan kesadaran lingkungan, bahwa kantong plastik berbahaya bagi alam.

Sumber: duniapisang.com/Kidung Pamungkas

Keprihatinan atas bahaya kantong plastik yang banyak digunakan untuk membawa barang-barang seperti dagangan, telah terjadi di seluruh pelosok dunia.

Di Uganda, negara yang berada di tengah benua Afrika dan dilalui garis Khatulistiwa tersebut, banyak di antaranya juga sadar akan bahaya plastik.

Karena itu, beberapa anak muda melakukan terobosan dengan berusaha menggantikan kantong plastik dengan kantong kertas atau paper bag. Uniknya lagi, kantong kertas itu dibuat dengan bahan pohon pisang.

Berikut ini adalah kisah tersebut dan semoga Kisanak yang membacanya sampai habis dapat memetik hikmahnya. Bahkan mungkin Kisanak terinspirasi orang-orang Uganda berikut ini.

Uganda adalah Negeri yang Tertutup Daun Pisang


pisang, pohon pisang, serat, berharga, alami
Sumber: Unsplash.com/M Rishal

Uganda, salah satu negara di Afrika bagian tengah, adalah salah satu penghasil buah pisang terbesar di dunia. Uganda termasuk 10 negara kelompok penghasil pisang terbesar di dunia pada tahun 2000-an.

Awalnya, bahkan negara dengan ibu kota Kampala tersebut masuk dalam kelompok lima negara terbesar penghasil buah pisang.

Sebagai negara yang dilalui oleh garis Khatulistiwa, Uganda termasuk memiliki iklim tropis yang subur ditumbuhi tanaman pisang yang luas.

Lebih dari 75 persen petani Uganda menanam pisang dan buah tersebut menjadi salah satu makanan pokok negara tersebut. Rata-rata orang Uganda bahkan disebut memakan pisang satu kilogram dalam satu hari.

Winston Churchill yang pernah berkunjung ke Uganda pada awal tahun 1990-an, mengenang dalam catatan bukunya My African Journey, dengan menyebut Kampala, ibu kota Uganda, sebagai "tidak terlihat" karena disembunyikan oleh "daun perkebunan pisang yang tak terhitung banyaknya."

Baca juga: Pisang Merah atau Pisang Genderuwo

Upaya Mengubah Pisang Jadi Lebih Bernilai


serat, pisang, berharga, bernilai, mahal
Sumber: Pexels.com/Burst

Melihat banyaknya pisang dan limbah pohon pisang, Sharon Ninsiima, berusaha mengubahnya menjadi lebih bernilai. Dia memikirkan untuk mengubah pohon pisang menjadi kertas, karena menurut banyak penelitian, serat pisang bagus untuk bahan kertas.

Sharon mengatakan "Saya ingin melawan kantong plastik, Anda tahu kantong plastik butuh waktu lama untuk membusuk. Kantong kertas saya bahkan tidak butuh waktu seminggu untuk membusuk," ujarnya.

Pada tahun 2016 lalu, Reuters melihat bahwa Sharon mampu menghasilkan 50 kantong kertas dalam sehari. Per kantong kertas, ia jual sekitar Rp7.120.

Dia meninggalkan pekerjaannya dari kurir kantor empat tahun sebelumnya, dan berusaha mendapatkan lebih banyak investasi agar dapat memperluas bisnis dan dapat mengekspor produknya ke luar Uganda.

Bob Nuwagira, seorang petugas di Otoritas Manajemen Lingkungan Nasional Uganda (NEMA) menjelaskan bahwa banyaknya pisang dapat digunakan sebagai bahan kertas ringan sederhana.

Baca juga: 5 Seniman Menakjubkan Ini Berkarya dari Pisang

Serat Pisang untuk Kertas Berkualitas


serat, kertas, pisang, alami
Sumber: Pexels.com/Anna Nekrashevich

Kantong plastik oleh orang Uganda biasa disebut Kaveeras. Pemerintah negara tersebut, sejak tahun 2007-2008 telah berusaha untuk melarang kaveeras dan mencoba melihat alternatif lain yang lebih ramah lingkungan.

Sebelum Sharon Ninsiima, yang telah mencari solusi untuk menggantikan kaveeras, ada juga seoang pemuda yang bernama Godfrey Atuheire.

Atuheire, seorang peneliti di Institut Penelitian Industri Uganda, telah pergi ke India dan Jepang dalam usahanya untuk mendapatkan obat untuk salah satu masalah lingkungan yang paling mendesak di Uganda.

Dalam perjalanan itu, dia juga melakukan penelitian terhadap varietas pisang lokal dan terbukti mengandung serat yang cocok untuk membuat kantong kertas.

Akhirnya terobosan tersebut dibuat menggunakan teknologi sederhana yang dapat dikerjakan oleh remaja dan wanita di daerah perdesaan.

Atuheire mengatakan "jika larangan pemerintah terhadap kantong plastik ditegakkan, ini akan membantu menciptakan pasar untuk kantong kertas, mempromosikan perusahaan pedesaan dan mempekerjakan pemuda dan wanita pedesaan."

Baca juga: Musa velutina, Pisang Unik Berwarna Pink

Karpet dan Tekstil Serat Pisang 


serat, pisang, kertas, uganda
Sumber: Unsplash.com/Jan Kopriva

Selain penelitian dan pengembangan pohon pisang untuk dijadikan sebagai bahan pembuat kertas, Uganda juga mengembangkan produk serat pisang yang bisa dijadikan sebagai karpet dan tekstil.

Salah satu perusahaan rintisan bernama TexFad pada bulan April tahun 2021 ini, dikabarkan telah memproduksi karpet dan tekstil dari serat pisang.

Kimani Muturi, direktur dan pelaksana perusahaan tersebut menjelaskan "TexFad akan membuat 2.400 karpet tahun ini, lebih dari dua kali lipat tahun lalu dan meningkatkan pendapatan."

Perusahaan rintisan itu mulai berdiri pada tahun 2013 dan sudah memiliki 23 pegawai. Tahun 2020 lalu, TexFad mampu menghasilkan sekitar 41.000 dolar AS atau sekitar Rp.584 juta.

Pisang yang buahnya sudah dipanen, pohonnya dibelah menjadi dua dan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah mesin untuk diekstrak seratnya.

Setelah itu, ekstrak serat pisang diproses menjadi bahan jadi seperti karpet dan bahkan bahan campuran tekstil.

Mengutip dari Reuters, Muturi mengatakan "serat pisang adalah serat masa depan."

Dengan menggabungkan serat alami untuk produk-produk modern, masa depan peradaban manusia dapat menjadi semakin baik demi mengurangi penggunaan plastik yang sulit membusuk di lingkungan.

Produk-produk pengganti plastik seperti dengan bahan baku serat pisang, jauh lebih ramah lingkungan dan lebih mudah membusuk sehingga tidak akan menimbulkan gangguan bagi keseimbangan alam.

Itulah kisah dari Uganda, negara Afrika yang membuat terobosan keren menggunakan limbah pohon pisang. Di Amerika, ada seorang perempuan unik yang mengoleksi label produk buah pisang. Jumlah koleksinya lebih dari 20.000 label.

Kisanak dapat menyimak kisah menarik di artikel Perempuan Ini Koleksi Puluhan Ribu Label Pisang

Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Di Uganda, Pohon Pisang Disulap Jadi 'Paper Bag' dan Bahan Tekstil"