Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Uganda Produksi Bir dari Pisang

Uganda adalah salah satu negara di Afrika yang menghasilkan banyak pisang. Salah satu pemanfaatan buah pisang di Uganda adalah dengan cara difermentasi untuk menjadi bir atau minuman beralkohol. Minuman ini jadi populer tidak hanya di Uganda tapi juga di negara Afrika Timur.

 
bir pisang uganda
Sumber: duniapisang.com/Kidung Pamungkas


Pisang dihasilkan oleh sekitar 135 negara di dunia. Paling banyak adalah negara-negara yang berada di daerah tropis dan subtropis yang dekat dengan garis Khatulistiwa.

Uganda, salah satu negara di Afrika juga penghasil pisang. Bahkan negara itu sering masuk dalam 10 besar negara penghasil pisang terbesar di dunia.

Sebanyak lebih dari 75 persen dari semua petani di Uganda menanam pisang. Buah itu telah menjadi makanan pokok. Bahkan di beberapa wilayah Uganda, rata-rata orang memakan pisang satu kilogram per hari.

Dengan produksi pisang yang melimpah, maka harga pisang menjadi bermasalah. Harga pisang akan turun karena persaingan yang tinggi. Tapi keberlimpahan pisang juga membuat orang Uganda mampu berkreasi.

Mereka menggunakan limbah pisang, seperti pohon dan pelepahnya, untuk dibuat sebagai kertas. Beberapa pisang varietas lokal dengan serat yang bagus, diekstrak untuk dibuat menjadi kertas dan bernilai ekonomis.

Kisanak dapat menyimak informasi detail tentang industri kertas dari pelepah pisang di Uganda dalam artikel Pohon Pisang Disulap Jadi 'Paper Bag' dan Bahan Tekstil.

Selain dimanfaatkan dalam industri pembuatan kertas, orang Uganda rupanya juga memiliki keahlian membuat bir atau minuman alkohol dari pisang.

Jauh sebelum orang Eropa memperkenalkan teknik penyulingan bir, masyarakat Uganda telah memiliki keahlian tersebut.

Sejarah Lama Pembuatan Bir di Afrika


Di sebagian besar Afrika, masyarakat tertentu di sana telah memiliki keahlian dalam menyuling bir. Kini ada dua pengaruh kuat bagaimana industri penyulingan bir tetap berjalan di benua tersebut.

Pengaruh pertama adalah tradisi suku-suku yang diturunkan selama berabad-abad dan pengaruh kedua adalah dari kaum kolonial Eropa seperti Belanda dan Inggris.

Orang Eropa membawa metode pembuatan mereka yang berbeda ke Afrika mulai abad ke-15 dan ke-16.

Meski metode orang Eropa lebih modern, bagaimanapun juga metode tradisional adalah bagian yang sangat kuat dari pembuatan bir di Afrika.

Bir-bir yang dibuat dengan metode tradisional, sering dijual di pasaran lokal. Minuman beralkohol itu dapat diminum biasa atau dalam acara-acara tertentu seperti acara seremonial dan budaya.

Baca juga: Perempuan Ini Koleksi Puluhan Ribu Label Pisang

Bir yang Dibuat dari Pisang


Masyarakat Uganda menyebut bir yang dibuat dari pisang dengan nama Tonto. Bir pisang itu dihasilkan dari pisang varietas khusus seperti kisubi, ndizi, musa, kivuru, kabula dan mbidde.

Bir pisang lainnya yang digunakan untuk masyarakat Uganda bagian tengah adalah mwenge bigere. 

Menurut laporan yang tulis oleh WHO, bir pisang Tonto dibuat dengan cara pisang hijau dimatangkan dalam waktu 3-5 hari dalam lubang tertutup yang telah dipanaskan sebelumnya. Tutupnya menggunakan daun pisang.

Pisang kemudian dibuat menjadi jus dan diekstraksi dengan cara dilumerkan. Beberapa cara tradisional yang dilakukan untuk melumerkan itu adalah menggunakan kaki.

Setelah lumer, jus itu disaring dengan rumput khusus yang dan kemudian diencerkan dengan air dalam rasio perkiraan ketepatan mereka.

Dari jus pisang yang sudah disaring, dicampurkan dengan sorgum panggang dalam wadah kayu seperti kano. Selanjutnya kano ditutup dengan daun pisang lalu diinkubasi selama 2-4 hari. Bir kemudian disajikan dengan disaring lagi.

Kandungan alkohol dari minuman bir pisang Uganda tersebut antara 6 sampai dengan 11 persen. Cara konsumsi bisa diteguk langsung dengan gelas atau menggunakan sedotan.

Menurut Beer and Brewing, bir pisang yang dibuat dengan merode tradisional ini menghasilkan bir berwarna kuning oranye bening dan manis.

Baca juga: 5 Seniman Menakjubkan Ini Berkarya dari Pisang

Para Perempuan Pembuat Wine


Meski ada bir pisang tradisional, kreasi dan inovasi juga dilakukan. Pada tahun 2000-an, para perempuan di Uganda mampu membuat wine atau anggur dari pisang. Harga jualnya lebih dari seratus persen dari pada menjual pisang segar.

Elizabeth Nsimadala, salah satu perempuan penanam pisang dan yang menginisiasi produksi wine serta menjadi direktur perusahaan pembuatan wine, telah melakukan serangkaian pelatihan untuk memproduksi wine pisang.

"Pisang yang dapat menghasilkan 10 dolar, setelah diproses, Anda dapat menghasilkan laba bersih sebesar 200 dolar, yang tidak dapat dipercaya bagi banyak orang. Bagi saya itu adalah kenyataan karena saya melakukannya. Kami melakukannya, dan kami mendapatkan hasilnya," jelasnya kepara Take Part.

Penjualan wine pisang Nsimadala menggunakan label dagang Tida Wine dan pada tahun 2016 lalu, ia mengaku bahwa penjualan produknya seperti menjual "kue yang masih panas," alias laris manis.

Ada pasar wine yang berlimpah di Uganda karena banyak orang di negara tersebut yang menyukai minuman beralkohol, khususnya dari bahan pisang.

Menurut WHO, pada tahun 2004 lalu, Uganda salah satu negara teratas di dunia yang masyarakatnya mengonsumsi alkohol per kapita. Tapi karena itu pula, ada kekhawatiran akan dampak buruk dari kebiasaan tersebut.

Nsimadala memiliki strategi dalam ekspansi produknya, yang dapat menjual wine pisangnya ke supermarket, bar dan toko di seluruh negeri dan sekitarnya. Ia bahkan berambisi akan membawa produknya ke luar negeri yang jauh.

Uganda dan beberapa negara tetangganya memiliki tradisi untuk membuat minuman alkohol berbahan dasar pisang. Pisang adalah hasil bumi yang melimpah dan ada kalanya menyenangkan ketika mendapatkan keuntungan. Itu karena, pada dasarnya Pisang adalah Senyuman Alam.

Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Uganda Produksi Bir dari Pisang"