Serat Pelepah Pisang untuk Bahan Tekstil - Dunia Pisang

Dunia Pisang

Semua hal tentang pisang, dari mulai budidaya tanaman pisang, cerita tentang pisang, resep kuliner pisang, sampai karya seni dari pisang serta fakta-fakta tentang pisang.

Latest Update
Fetching data...

Jumat, 04 Juni 2021

Serat Pelepah Pisang untuk Bahan Tekstil

Semua bagian pohon pisang memiliki manfaat. Salah satunya yang belum banyak dikembangkan adalah serat pelepah pisang. Serat pelepah pisang dapat digunakan untuk menjadi bahan tekstil yang ramah lingkungan.
pisang, serat pisang, serat pelepah pisang, serat pelepah pisang abaka
(Wikipedia.org/MarvinBikolano)

Banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari tanaman pisang. Paling umum dan lumrah adalah buahnya yang terkenal lezat dan nikmat.

Pemanfaatan buah pisang dapat digunakan untuk buah cuci mulut dan juga berbagai ragam olahan kuliner yang menggoda.

Namun dari banyak pemanfaatan pisang, ada satu bidang yang sampai saat ini masih jarang dikembangkan yakni pemanfaatan serat pelepah pisang. Serat pelepah pisang dapat digunakan untuk bahan tekstil.

Pemanfaatan serat pelepah pisang untuk bahan tekstil ini sebenarnya telah dilakukan sejak lama, sejak ribuan tahun silam. Tapi karena kalah bersaing dengan kapas, maka tekstil serat pisang ini tersingkir.

Meski begitu, kini tekstil dari serat alam, khususnya dari pelepah pisang mulai dilirik kembali. Ini karena tekstil dari serat pelepah pisang dikenal lebih ramah lingkungan.

Jenis serat pisang sebagai bahan tekstil


pisang, pisang abaka, pisang abaca
Ilustrasi pisang Abaka tahun 1879 (Wikipedia.org)

Pisang di dunia ini ada ribuan jenis. Banyak diantaranya telah dibudidayakan dan dipanen buahnya untuk dijadikan komoditas yang memiliki nilai jual bagus.

Tapi dari banyak jenis pisang yang dibudidayakan, ada dua jenis yang masih jarang dibudidayakan yakni Musa textilis NEE dan Musa basjoo.

Musa textilis adalah jenis pisang yang sering disebut sebagai pisang Abaca (Abaka), sedangkan Musa basjoo adalah jenis pisang yang sering disebut sebagai pisang Jepang.

Dua jenis pisang ini mampu menghasilkan serat pelepah pisang yang berkualitas. Meski begitu, pemanfaatannya belum begitu meluas dalam industri tekstil di dunia ini.

Untuk pisang Abaca (Abaka), jenis pisang ini disebut berasal dari Filipina. Namun pisang Abaka juga terlihat tumbuh di beberapa wilayah Indonesia seperti di Sangihe-Talaud, Sulawesi Utara, dan di Kalimantan serta di Aceh.

Di Amerika Latin, Ekuador juga terkenal sebagai negara penghasil serat pelepah pisang Abaka.

Pemanfaatan serat pelepah pisang Abaka sudah terkenal dan dijadikan untuk bahan tekstil. Di Indonesia, sudah ada beberapa produsen yang memanfaatkan serat pelepah pisang Abaka tersebut.

Sedangan untuk pisang Jepang sejauh ini sebagian besar hanya dimanfaatkan di Jepang saja dan belum meluas ke negara lain.

Bagaimana pemanfaatan serat pelepah pisang? Simak artikel ini sampai habis dan akan di bahas satu per satu.

Produsen serat pelepah pisang Abaka


Serat pelepah pisang Abaka disebut juga Manila hemp. Filipina adalah produsen terbesar untuk serat pelepah pisang Abaka ini.

Di Filipina, sebagian besar pisang Abaka di tanam di Kepulauan Visayas dan Mindanao. Pisang Abaka dibudidayakan di lahan seluas 176.549 hektar dan dikolela oleh lebih dari 122.758 petani.

Menurut lembaga PBB, Food and Agriculture Organization (FAO), pada tahun 2010 lalu, Filipina menghasilkan 57.000 ton serat pelepah pisang Abaka. Itu menyumbang lebih dari 80 persen kebutuhan dunia.

Dengan menjadi pelopor penghasil serat pelepah pisang Abaka, antara tahun 2018-2022, ditargetkan ekspor serat pelepah pisang tersebut menghasilkan 97,1 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,39 triliun tiap tahunnya.

Setelah Filipina, ada Ekuador yang menjadi negara kedua produsen serat pelepah pisang Abaka. Negara ini menurut FAO, memproduksi 10.000 ton serat pelepah pisang pada tahun 2010.

Sebagian besar ekspor serat pelepah pisang Abaka dari Filipina dan Ekuador banyak tertuju ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.

Meski pisang Abaka ini sudah mulai banyak dibudidayakan di Asia Tenggara lain, termasuk Indonesia, tapi produksinya belum mampu menyamai Filipina.

Kegunaan serat pelepah pisang Abaka


serat pelepah pisang, serat pisang, serat pelepah pisang abaka
Produksi kain serat pelepah pisang Abaka Filipina (Wikipedia.org)

Serat pelepah pisang Abaka yang diproduksi memiliki banyak manfaat. Menurut FAO, serat pelepah pisang Abaka digunakan untuk membuat tali, benang, tali pancing dan jaring, serta kain kasar untuk karung.

Ada juga pasar serat pelepah pisang Abaka yang mulai berkembang yakni untuk pakaian, gorden, tirai, dan termasuk pembuatan kertas. Jepang mengimpor serat pelepah pisang Abaka yang sebagian digunakan untuk campuran membuat uang kertas.

Disebutkan, uang kertas Yen Jepang mengandung 30 persen serat pelepah pisang Abaka.

Melansir dari laman National Printing Bureau, lembaga yang mencetak uang kertas Jepang, serat pelepah pisang Abaka dicampung dengan serat alami lain yang menghasilkan uang kertas Yen dengan warna dan tekstur yang unik.

Selain bermanfaat untuk bahan tekstil dan kertas, serat Abaka rupanya juga telah mulai digunakan di industri otomotif.

Pabrikan otomotif raksasa, Mercedes Benz adalah perusahaan yang telah memanfaatkan serat pelepah pisang tersebut, yang diaplikasikan untuk berbagai suku cadang otomotif seperti campuran serat kaca.

Mercedes Benz menggunakan campuran serat pelepah pisang Abaka karena mengetahui fakta kekuatan serat tersebut yang sangat bagus dan terbuat dari bahan yang alami.

Serat pelepah pisang Jepang


Setelah membahas serat pelepah pisang Abaka, sekarang kita membahas serat pelepah pisang Jepang atau serat Musa basjoo.

Serat pelepah pisang Jepang ini, disebut pertama kali dimanfaatkan di pulau Ryukyu, di Jepang Selatan. Asal jenis pisang ini diketahui dari China selatan yang subtropis dan sampai saat ini banyak yang tumbuh liar.

Di Jepang, sentra produksi utama kain tenun berbahan serat pelepah pisang berada di desa Ogimi yang terletak di daerah Okinawa bagian utara.

Masyarakat Jepang menyebut pemanfaatan serat pelepah pisang ini sebagai Kijoka no Bashofu. Serat pelepah pisang Jepang telah dijadikan sebagai bahan utama pembuatan Kimono Okinawa sejak zaman Kuno, tepatnya sekitar abad ke-13.

Kijoka no Bashofu pertama digunakan oleh bangsawan


motif kisuri, serat pelepah pisang, serat pelepah pisang jepang
(Wikipedia.org/Jyo81)

Kijoka no Bashofu secara literal diartikan serat pisang Basho. Dibawah dinasi Ryukyu, wilayah kerajaan Jepang tersebut membudidayakan pisang untuk menghasilkan serat pada sekitar abad ke-13.

Ada taman yang dibangun untuk membudidayakan pisang Basho untuk menghasilkan serat Bashofu berkualitas tinggi. Para bangsawan disebut sebagai kelompok yang memanfaatkan kain serat pelepah pisang ini.

Kemudian, orang biasa atau rakyat awam juga mulai memanfaatkannya untuk dijadikan sebagai kain bahan dasar pembuatan Kimono. Umumnya kain serat ini polos atau hanya bergaris-garis saja.

Melansir Kogei Japan, mulai tahun 1895 para perempuan membuat motif kasuri (seperti pada gambar di atas) dan berkembang sebagai kerajinan serat pelepah pisang. Para petani memanfaatkannya sebagai penghasilan sampingan yang menguntungkan.

Pada tahun 1939, Bashofu dari serat pelepah pisang ini semakin dikenal luas setelah dipamerkan di Mitsukoshi Department Store di Tokyo. Selama Perang Dunia II, bisnis serat pelepah pisang Jepang hancur dan mulai kembali bangkit setelah perang selesai.

Dalam perkembangannya, Kijoka no Bashofu tidak hanya dibuat sebagai Kimono saja, tetapi juga dibuat menjadi taplak meja, karpet rajut, ikat pinggang, sarung bantal halus, dasi, tas, dan tirai pintu masuk (noren).

Sejauh ini, pemanfaatan serat pelepah Musa basjoo Jepang ini masih terbatas dan kalah saing dengan serat pelepah pisang Abaka. Ini terbukti bahwa Jepang adalah importir besar serat pelepah pisang Abaka dari Filipina dan Ekuador.

Produksi serat pelepah pisang Abaka di Indonesia


serat pisang, pisang, karpet serat pisang, karpet serat pelepah pisang
(Wikipedia.org/Obsidi♠nSoul)

Meski produksi serat pelepah pisang Abaka di Indonesia tidak seterkenal Filipina dan Ekuador atau Jepang, tapi menurut Badan Litbang Pertanian, pada tahun 2020 sudah ada sekitar 3.000 herktar pisang Abaka yang dibudidayakan.

Pembudidayaan pisang Abaka ini tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, Aceh, Sumatera Selatan dan Lampung.

Daerah yang paling terkenal dengan produksi serat pelepah pisang Abaka di Indonesia adalah Sulawesi Utara, tepatnya di Sangihe dan Talaud.

Kain Koffo sebagai warisan leluhur


Di Sangihe, ada sebuah jenis kain tekstil yang terkenal diproduksi secara tradisional dan secara turun-temurun. Kain tersebut adalah kain Koffo. Koffo disebut juga sama dengan Hote yang berarti nama lokal dari jenis pisang Abaka.

Lokasi Sangihe-Talaud yang dekat dengan Filipina, memungkinkan pisang Abaka ini yang aslinya dari Filipina tersebar ke Sulawesi Utara.

Bagi suku Sangihe, pisang Hote ini penting karena menjadi bahan dasar kain. Pada tahun 1800an, pemerintah kolonial Belanda memaksa untuk menghabisi pisang tersebut dan menggantinya dengan tanaman kopi dan kapas.

Meski begitu, tidak semua pisang Hote habis dan masih banyak yang selamat. Kini, pengembangan kembali pisang Hote untuk diambil serat pelepah pisangnya dan dijadikan sebagai bahan tekstil, kembali naik daun.

Sejauh ini, kain Koffo dari serat pelepah pisang Abaka atau pisang Hote tidak terlalu tersohor di Indonesia. Indonesia lebih identik dengan Batik, padahal kain Koffo juga kain yang bagus yang berasal dari bahan ramah lingkungan serta alami.

Ekspor produk kain dari serat pelepah pisang Abaka


Meski bukan produsen serat pelepah pisang Abaka, Indonesia memiliki beberapa pengusaha yang bergelut dibidang pemanfaat serat pelepah pisang ini.

Salah satu orang yang memanfaatkannya dalam industri bernama Djunaidi, seorang pengusaha dari Palembang. Ia adalah pemilik CV Natural dan sudah berpengalaman dalam industri serat pelepah pisang.

Djunaidi banyak memproduksi karpet dan keset yang berbahan dasar serat pelepah pisang Abaka. Ia mendirikan perusahaannya pada tahun 2000 silam.

Melansir Antara, produksi Djunaidi diserap oleh pasar manca negara, khususnya negara Belgia, Inggris, Turki, Malaysia, Thailand dan Amerika Serikat serta negara lainnya.

Awalnya, Djunaidi adalah pengekspor rotan ke Jepang. Setelah pemerintah melarang ekspor mentah rotan, Djunaidi beralih ke produksi karpet serat kayu dan tujuan ekspornya Korea Selatan.

Tapi ketika masyarakat Korea Selatan beralih ke karpet elektrik yang otomatis bisa menjadi hangat sendiri, produk Djunaidi tersingkir. Djunaidi kemudian beralih ke serat pelepah pisang Abaka untuk produknya.

Djunaidi mengaku bahwa serat yang ia jadikan bahan utama, diimpor dari Filipina dan Ekuador. Ia sudah pernah mencoba membudidayakan pisang Abaka sendiri tapi kualitasnya tidak sebagus serat pelepah pisang dari Filipina.

Selama pandemi virus corona, produksi serat pelepah pisah Abaka Djunaidi turun drastis. Sebelum pandemi, ia mampu mengekspor satu kontainer karpet serat pelepah pisang Abaka. Tapi saat pandemi, ia hanya mampu mengekspor separuhnya.

Begitulah tadi cerita serat pelepah pisang untuk bahan tekstil dan pekembangannya di beberapa negara.

Kisanak dapat membaca informasi menarik lain tentang rekor dunia tentang pisang, dari mulai pisang terbesar hingga pisang termahal di artikel 5 Rekor Dunia Pisang, Ada yang Bobotnya Satu Kuintal Lebih

Load comments