Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pisang Abaka, Jenis Pisang untuk Industri Kain

Pisang Abaka adalah pisang istimewa. Pisang Abaka tidak dipanen buahnya tapi dipanen batang pohonnya. Batang pohon itu kemudian diambil seratnya untuk bahan dasar kain. Pisang Abaka adalah jenis pisang utama untuk industri kain.

kain serat pisang abaka, serat pisang abaka, pisang abaka
Kain dari serat pisang Abaka (Wikipedia.org/ USAID Biodiversity & Forestry)

Semua bagian dari tanaman yang disebut pisang itu memiliki manfaat. Dari mulai akar, bonggol, batang pohon, pelepah, bunga, daun sampai yang paling umum adalah buahnya.

Buah pisang adalah buah yang saat ini sangat populer di seluruh dunia. Salah satu jenis dari buah pisang yang populer ini adalah jenis Cavendish.

Pisang Cavendish ini dulu bukan unggulan tetapi setelah jenis Gros Michel hampir punah diserang hama, pisang Cevendish muncul ke permukaan dan menjadi pisang paling banyak diperdagangkan di seluruh dunia.

Selain pisang Cavendish yang menguntungkan, ada pisang lain yang juga tak kalah menguntungkannya yakni pisang Abaka.

Tapi pisang Abaka tidak dipanen buahnya. Pisang Abaka dipanen batang pohonnya yang kemudian serat batang pohon itu diambil untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kain.

Meski begitu, serat pisang Abaka juga sebenarnya tidak hanya bisa dijadikan bahan dasar kain tapi juga bisa digunakan untuk hal lain seperti dalam industri kertas, khususnya untuk membuat uang kertas.

Berikut ini Dunia Pisang akan memberikan penjelasan menarik tetang pisang Abaka, jenis pisang yang berguna untuk industri kain, salah satu industri yang menguntungkan.

Pisang Abaka atau Musa textilis


Secara ilmiah, pisang Abaka ini dinamakan Musa textilis. Namun Musa textilis ini kemudian lebih umum atau lebih lumrah dipanggil pisang Abaka (Abaka). Nama panggilan lainnya adalah Manila hemp.

Batang pohon atau batang semu pisang Abaka memiliki diameter antara 15-39 centimeter. Daunnya dapat terbentuk dari 12 sampai 25 lembar.

Pisang Abaka berbunga seperti pisang pada umumnya. Tapi buahnya pisang Abaka hampir tidak dapat dimakan. Meski begitu, panjang buah pisang Abaka bisa mencapai 7,8 centimeter dan diameter buahnya bisa mencapai 2,5 centimeter.

Di dalam buah pisang Abaka, ada biji-biji kecil yang berwarna hitam, layaknya pisang liar yang biasa ditemui di hutan atau pinggir hutan.

Asal-usul pisang Abaka


pisang abaka, pisang, abaka, serat pisang abaka
(Wikipedia.org)

Pisang Abaka atau Musa textilis ini adalah jenis pisang endemik dari Filipina. Leluhur pisang Abaka diperkirakan berasal dari Filipina timur, di hutan pedalaman Catandueanes.

Varietas pisang Abaka kemudian banyak berkembang dan sebagian mengalami pemuliaan menjadi lebih komersial, di mana batang pohonnya digunakan untuk diambil seratnya.

Ketika penjelajah Eropa bernama Ferdinand Magellan mencari rempah-rempah, ia sempat putus asa berlayar di tengah samudera Pasifik. Kapal yang ia bawa selama berbulan-bulan tak melihat daratan.

Tapi pada akhirnya, kapal itu sampai ke Filipina pada tahun 1521.

Di Filipina itulah, Magellan menjadi orang Eropa pertama yang bersentuhan dengan pisang Abaka. Magellan dan anak buahnya melihat masyarakat Filipina telah terbiasa memanfaatkan pelepah batang pohon pisang Abaka untuk diambil seratnya.

Serat pohon pisang Abaka telah lama dijadikan bahan tali dan tekstil oleh penduduk setempat. Dan masyarakat yang ditemui Magellan itu, telah melakukan pekerjaan mengambil serat pisang Abaka selama turun-temurun.

Tapi Ferdinand Magellan mengalami nasib sial ketika di Filipina. Ia tewas ketika berperang melawan pasukan yang dipimpin oleh Lapu-Lapu. Anak buah Magellan meneruskan perjalanannya mencari rempah-rempah, yang akhirnya sampai di Maluku Utara.

Meski begitu, peta penjelajahan orang Eropa itu telah menuliskan wilayah yang kini bernama Filipina. Ferdinand Magellan yang orang Portugis tetapi bekerja untuk kerajaan Spanyol, jadi pembuka jalan bagi nafsu kolonial Spanyol untuk menancapkan kukunya.

Serat pisang Abaka jadi produk utama ekspor


pisang, abaka, pisang abaka, serat pisang abaka
(Wikipedia.org/John Washington)

Spanyol yang mempekerjakan penjelajah Portugis, kemudian merasa memiliki hak karena menganggap diri telah "menemukan" Filipina. Wilayah itu kemudian mulai dijajah Spanyol dan menjadi bagian dari daerah koloninya.

Pada masa kekuasaan kolonial Spanyol, ada tiga produk ekspor utama dari Filipina. Tiga produk ekspor tersebut adalah tembakau, gula dan serat pisang Abaka.

Mulai pada tahun 1897, jumlah ekspor serat pisang Abaka dari Filipina mampu mencapai 100.000 ton. Dari pertengahan tahun 1800an itu, serat pisang Abaka bergantian menempati posisi utama ekspor, bersaing dengan gula, sampai abad ke-19.

Belanda yang menjajah Indonesia, melihat prospek produk serat pisang Abaka yang diekspor Spanyol dari Filipina. Pada tahun 1925, Belanda kemudian mulai membudidayakan pisang Abaka di Sumatera.

Pada tahun 1929, Amerika Serikat menjadi salah satu sponsor utama menyebarkan pisang Abaka untuk dibudidayakan di daerah Amerika Tengah, seperti di Panama, Kosta Rika, Honduras, dan Guatemala.

Saat ini produksi serat pisang Abaka dari Amerika Tengah yang paling besar adalah Ekuador. Ekuador menjadi negara produsen serat Abaka kedua terbesar di dunia, setelah Filipina.

Produk serat pisang Abaka dari Filipina, mengambil lebih dari 80 persen pangsa pasar serat pisang Abaka internasional. Baik itu dari zaman kolonial sampai saat ini, Filipina masih mendominasi. Serat pisang Abaka menjadi salah satu produk andalan Filipina modern, yang telah merdeka dari Spanyol.

Penenun mimpi serat pisang Abaka


penenun serat abaka, kain t'nalak, serat pisang abaka
(Wikipedia.org/I Travel Philippines)

Sebagai jenis pisang endemik Filipina, pisang Abaka memiliki kaitan erat dalam kebudayaan masyarakat adat, khususnya suku T'boli. Suku T'boli ini adalah suku pedalaman Filipina yang mendiami daerah Cotabato, Mindanao.

Suku T'boli ini adalah suku yang terkenal dengan kain tenun berbahan dasar serat pisang Abaka. Kain tenun mereka disebut T'Nalak.

Dalam catatan Critical Filipinx American Histories and their Artifacts, Amanda David dan Shiela Everett menulis bahwa T'Nalak digunakan untuk merayakan peristiwa besar kehidupan seperti kelahiran, kehidupan, pernikahan, atau kematian dalam masyarakat.

Hal menarik tentang kain tenun T'Nalak adalah motif yang dibuat berdasarkan mimpi sang penenun. Itulah kenapa, para pembuat T'Nalak juga disebut sebagai "Penenun Mimpi."

Mereka mengejewantahkan mimpinya dalam bentuk tenunan, sehingga T'Nalak tidak hanya sebatas kain tapi juga wujud ekspresi keyakinan dan kebudayaan yang mengikat kehidupan.

Proses menenun serat pisang Abaka menjadi T'Nalak adalah proses yang penuh dengan tabu dan ritual spritualitas.

Seluruh teknik penenunan serat pisang Abaka untuk menjadi T'Nalak diturunkan secara turun-temurun oleh keluarga pihak ibu. Dari mulai proses pencelupan warna sampai dengan penenunan serat pisang Abaka.

Tiga warna utama dari kain tenun T'Nalak adalah hitam, putih dan merah. Biasanya, warna hitam adalah warna latar belakang sedangkan polanya adalah warna putih. Pola lain yang mendominasi digunakan dengan warna merah.

Beberapa kreasi untuk mencampurkan warna lain juga sudah terjadi dan itu adalah hal yang biasa. Namun warna utama dari kain tenun T'Nalak ini adalah warna hitam, putih dan merah.

Melansir The Textile Atlas, sampai saat ini, kain tenun T'Nalak tetap memiliki posisi istimewa di tengah masyarakat suku T'boli Filipina.

T'nalak digunakan untuk tujuan ritual, sebagai persembahan kepada roh selama perayaan adat. T'Nalak juga dapat digunakan sebagai barter makanan dan persediaan ekonomi suku T'boli, sampai saat ini.

Kisanak dapat juga membaca artikel menarik tentang Serat Pelepah Pisang untuk Bahan Tekstil

Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Pisang Abaka, Jenis Pisang untuk Industri Kain"