Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kain Serat Pisang dari Jepang, Kijoka Bashofu

Beberapa jenis pisang memiliki serat yang kuat dan sangat berguna. Serat pisang tersebut dapat digunakan untuk membuat kain dengan cara ditenun. Di Jepang, kain dari serat pisang dikenal dengan nama Kijoka Bashofu.

Ilustrasi (Pexels.com/NastyaSensei)

Daya cipta manusia selalu memiliki naluri yang luar biasa. Mereka dapat memanfaatkan alam lingkungannya untuk bertahan hidup, seperti misalnya dari pisang.

Manusia memanfaatkan bagian-bagian dari tanaman pisang untuk bertahan hidup dan menciptakan kebudayaan.

Beberapa di antaranya adalah bagaimana manusia menggunakan serat dari pisang untuk membuat pakaian.

Di beberapa wilayah di dunia, ada masyarakat yang memanfaatkan serat pisang sebagai bagian dari kebudayaannya. Serat tersebut ditenun dan menjadi kain yang sangat berharga.

Di Indonesia, masyarakat Sangihe-Talaud terkenal memiliki kain Koffo, kain yang diciptakan dari menenun serat dari pisang Hote. Di Filipina, masyarakat adat T'boli menciptakan T'Nalak, kain serat pisang dari jenis pisang Abaka.

Di Jepang, masyarakat di sana, khususnya di daerah Okinawa, menenun serat dari pisang untuk membuat kain yang bernama Kijoka Bashofu. Serat pisang yang digunakan adalah pisang Jepang atau Musa basjoo.

Inilah cerita tentang kain serat pisang dari Jepang yang disebut Kijoka Bashofu atau Bashofu saja.

Bashofu adalah kain upeti untuk dinasti Ming


Kerajinan dan kesenian tenun serat pisang dari Jepang telah dimulai ribuan tahun silam. Dalam beberapa catatan, ada yang menyebutnya kesenian tersebut mulai pada abad ke-13.

Munculnya kerajinan dan kesenian menenun serat pisang untuk menjadi kain mulai dilakukan pada era kerajaan Ryukyu, yang secara geografis saat ini terletak di Okinawa, kepulauan tersendiri yang berada di sebelah barat daya Tokyo, yang jaraknya lebih dari 2.000 kilometer dari ibukota.

Di kepulauan Ryukyu awalnya ada tiga kerajaan. Mereka adalah Hokuzan, Nanzan dan Chuzan. Dari tiga kerajaan ini, yang ekonominya paling kuat adalah Chuzan. Dari ketiga kerajaan ini terbentuklah Kerajaan Ryukyu.

Baca juga: Cerita Pisang Termahal di Dunia Harganya 1,7 Miliar

Kerajaan Ryukyu tersebut memiliki hubungan dengan Dinasti Ming di China. Bahkan hubungan itu erat. Pada tahun 1392, atas permintaan kerajaan Ryukyu, Ming mengirim 36 keluarga Cina dari Fujian untuk bekerja dan mengurusi dan mengelola persoalan kelautan.

Hubungan yang dekat ini menempatkan Kerajaan Ryukyu berada dibawah Dinasti Ming yang lebih besar. Karenanya, Ryukyu memiliki kebiasaan untuk mengirimkan upeti atua hadiah ke Kerajaan Ming.

Pada tahun 1372, dalam buku The Origins of Banana-fibre Cloth in the Ryukyus, Japan (2007) karya Katrien Hendrickx, Ryukyu telah mengirim upeti ke Kerajaan Ming. Salah satu upeti yang dikirimkan adalah kain dari serat pisang yang ditenun dengan sangat indah.

Meski begitu, Hendrickx menilai bahwa sebenarnya masyarakat Kerajaan Ryukyu telah menenun kain serat pisang tersebut sejak lama, jauh sebelum mereka mengirimkan Bashofu tersebut sebagai bagian dari upeti kepada Kerajaan Ming di Cina daratan.

Fungsi Bashofu, kain serat pisang dari Jepang


Sebelum Perang Dunia II, banyak gambar yang menunjukkan kain tenun Bashofu yang berasal dari serat pisang dipakai oleh para pekerja kasar, dan kain tersebut juga terlihat kasar.

Tapi sebenarnya, sejarah kain serat pisang dari Jepang yang disebut Bashofu itu memiliki tiga fungsi.

Beberapa fungsi yang tercatat adalah digunakan sebagai hadiah diplomatik, sebagai pakaian resmi dan juga sebagai pakaian biasa yang dikenakan oleh rakyat, baik itu bangsawan atau jelata.

Kain serat pisang Bashofu sebagai hadiah diplomatik


Dalam buku yang ditulis oleh Katrien Hendrickx, kain serat pisang yang dibuat di Kerajaan Ryukyu telah menjadi salah satu barang hadiah untuk Kerajaan Ming China. Bukti tertulisnya muncul pada tahun 1587.

Pada tahun 1589 dan setelahnya, daftar kain serat pisang Bashofu yang dikirim bersama dengan hadiah lain untuk Kerajaan Ming semakin meningkat jumlahnya.

Selain memiliki hubungan diplomatik dengan Kerajaan Ming, Kerajaan Ryukyu juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Korea. Pada tahun 1626 dan 1628, tercatat bahwa dua kerajaan itu saling bertukar hadiah.

Hadiah yang dikirimkan dari Kerajaan Ryukyu untuk Kerajaan Korea salah satunya adalah berlembar-lembar kain serat pisang Bashofu, kain yang ditenun oleh sebagian besar masyarakat Kerajaan Ryukyu.

Ketika Ryukyu diinvasi secara militer oleh Satsuma dan takluk pada tahun 1634 saat periode Edo, Ryukyu juga memberikan hadiah kepada Shogun berupa kain serat pisang Bashofu tersebut.

Produksi kain serat pisang Bashofu terus dilakukan dan bahkan berkembang. Produksi tersebut sempat terhenti ketika Jepang melakukan peperangan dengan Amerika Serikat, pada Perang Dunia II.

Kain serat pisang Bashofu sebagai pakaian rakyat


kain serat pisang, kain serat pisang bashofu, kain serat pisang jepang
Masyarakat Jepang era Kerajaan Ryukyu (Wikipedia.org)

Meski diyakini bahwa pembuatan kain serat pisang Bashofu telah dilakukan pada abad ke-13, namun bukti tercatat yang menunjukkan penggunaan kain serat pisang tersebut di lapisan masyarakat terlihat mulai tahun 1600an.

Katrien Hendrickx mengajukan temuan dalam penelitiannya, bahwa pada tahun 1621 sampai 1640, raja Sho Ho memerintahkan pakaian resmi untuk pejabat lelaki menggunakan kain serat pisang Bashofu unggulan untuk pakaian resmi.

Baca juga: Menyulap Pelepah Pisang jadi Songkok

Selain itu, para pejabat perempuan pelayan raja juga diperintahkan untuk menggunakan kain serat pisang Bashofu ketika melayani sang raja.

Kain serat pisang Bashofu juga terlihat digunakan oleh rakyat jelata pada pertengahan abad ke-17 di beberapa bagian pulau Okinawa. Pada tahun 1873, ada juga peraturan tentang pakaian rakyat yang mana dalam aturan disebutkan bahwa pada musim dingin, rakyat memakain pakaian katun dan pada musim panas, rakyat memakai pakaian Bashofu.

Kain serat pisang Bashofu sebagai alat bayar pajak dan pakaian pernikahan


Ragam fungsi kain serat pisang Bashofu yang bermula dari Okinawa memiliki sejarah yang unik dan luas. Selain kain serat pisang itu memiliki fungsi sebagai barang hadiah diplomatik dan pakaian rakyat, juga dapat digunakan untuk alat bayar pajak.

Bukti bahwa kain serat pisang menjadi alat bayar pajak adalah ketika Ryukyu telah diinvasi oleh Satsuma. Satsuma banyak meminta kain serat pisang dan serat rami sebagai ganti bayar pajak rakyat dan kain serat alam tersebut dijual di daratan Jepang.

Selain dapat berfungsi sebagai alat bayar pajak, rupanya serat kain pisang Bashofu juga dicatat sebagai bagian dari pakaian pernikahan. Pada awal abad ke-20, pernah ada seorang mempelai perempuan yang mengenakan kimono biru terbuat dari kain serat pisang Bashofu yang digunakan sebagai penutup kepala.

Kain serat pisang Bashofu modern


kain serat pisang bashofu, kain serat pisang, bashofu, jepang
Tangkap layar kain serat pisang Bashofu yang dijual di Etsy

Perkembangan teknologi tekstil kapas jauh lebih cepat ketimbang inovasi dalam mengembangkan kain serat pisang. Kain tekstil hasil tenun seringkali terpinggirkan, meski kemudian jika beruntung harganya menjadi mahal.

Kerajinan pembuatan kain serat pisang Bashofu di Jepang masih terus berlanjut meski tergeser oleh kain dari kapas. Produksi kain serat pisang itu baru anjlok setelah pertempuran Okinawa terjadi pada Perang Dunia II.

Saat itu, Jepang habis-habisan mempertahankan Okinawa dari gempuran Amerika Serikat. Itu dilakukan karena jika Okinawa jatuh, maka benteng terakhir pertahanan telah runtuh dan Tokyo akan dengan mudah dapat ditaklukkan.

Dalam pertempuran habis-habisan ini, banyak sekali korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Tapi Jepang sangat menderita karena sekitar 150 ribu penduduk sipil tewas dan sekitar 95 ribu personel militernya kehilangan nyawa. 

Usai Perang Dunia II, produksi kain serat pisang Bashofu Jepang kemudian berlanjut sampai ke era modern meski dengan tertatih. Hal ini karena banyak warga Okinawa yang ahli menenun serat pisang menjadi korban dalam peperangan.

Baca juga: Mengapa Terpeleset Kulit Pisang Jadi Komedi?

Pada tahun 1974, secara resmi pemerintah Jepang mengakui bahwa Kijoka Bashofu sebagai Properti Budaya Penting Tak Benda.

Secara umum, kain serat pisang Bashofu Jepang dibuat menjadi Kimono, baik dengan kualitas yang kasar maupun kualitas halus dan istimewa.

Saat ini, kain serat pisang Bashofu banyak dicari oleh kolektor, apalagi kain itu berumur puluhan tahun dan masih bagus.

Dalam salah satu akun yang menjual Kimono Bashofu di situs jual beli Etsy, Kimono tersebut dijual dengan harga lebih dari Rp40 juta rupiah. Kimono itu diperkirakan dibuat tahun 1920an.

Akun lainnya yang menjual kain serat pisang Bashofu di Etsy menjualnya seharga 15.500 Yen atau sekitar Rp2 juta untuk kain dengan ukuran 36,5 X 47 centimeter. Untuk kain Bashofu lain yang berukuran 15 X 100 centimeter dihargai Rp2,2 juta. Kain Bashofu tersebut dibuat sekitar tahun 1930an.

Kisanak dapat menyimak informasi menarik lainnya dalam artikel Serat Pelepah Pisang untuk Bahan Tekstil

Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Kain Serat Pisang dari Jepang, Kijoka Bashofu"