Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Museum Pisang: Pisang Adalah Senyuman Alam

Museum tidak hanya digunakan untuk menampung benda-benda yang dianggap bersejarah, tapi museum juga bisa dibangun sebagai dedikasi untuk suatu hal. Ya, salah satunya pisang. Di Jerman dan Amerika Serikat, ada orang yang gandrung dengan pisang dan membuat museum untuk buah tersebut.

museum, pisang, museum pisang, museum pisang jerman, museum pisang amerika serikat
(Unsplash.com/Lotte Lohr)

Peradaban pisang itu sudah lama banget lho! Kisanak bisa menyimaknya di artikel Buah Surga Bernama Pisang. Dalam artikel tersebut, pisang sudah dikenal selama ribuan tahun dan sudah dibudidayakan.

Di wilayah tropis, pisang menjadi buah yang lumrah dan umum. Pisang jadi santapan dan olahan yang beragam, baik itu dikukus, digoreng, dibakar atau dibuat campuran membuat kue.

Kini pisang telah menjangkau di banyak wilayah, meski sekalipun wilayah itu tidak tropis. Ya, seperti misalnya di Eropa atau Amerika Utara.

Pisang awalnya dikenal hanya tumbuh di daerah Indocina dan Asia Tenggara. Seiring dengan berkembangnya zaman, perdagangan yang semakin maju dan kolonialisme yang meluas, pisang tersebar ke pelbagai negara.

Pisang menjadi bagian dari peradaban manusia. Bahkan pisang telah menjadi peradaban itu sendiri. Di Jerman dan Amerika Serikat, ada orang yang memiliki kegandrungan kepada pisang sehingga mereka membuat museum untuk mengabadikannya.

Museum yang dibangun itu memiliki puluhan ribu artefak tentang pisang dan semua yang berkaitan dengan buah eksotis tersebut. Artikel ini akan menjelaskan beberapa hal penting dari museum pisang yang pernah dibuat di Jerman dan Amerika Serikat.

Pisang adalah senyuman alam

museum pisang, museum pisang jerman, museum pisang pertama jerman
Stelli Banana, pendiri museum pisang di Jerman (Wikipedia.org/Yoshi OH)

Museum pisang di Jerman berada di Sierksdorf. Itu terletak di sebelarh timur laut kota Hamburg, yang berjarak sekitar 90 kilometer. Perjalanan dari Hamburg ke Sierksdorf memakan waktu setidaknya satu jam.

Musem pisang itu bernama Museum Erstes Deutsches Bananen atau Museum Pisang Pertama Jerman. Dikelola oleh swasta, museum tersebut menampung berbagai artefak dari mulai karya seni, barang bisnis sampai koleksi pribadi.

Museum pisang ini berdiri usai tembok Berlin yang membagi Jerman menjadi dua bagian dihancurkan. Museum berdiri tepatnya pada 22 Juni 1991 oleh seorang seniman lepas yang bernama Bernhard Stellmacher.

Bernhard Stellmacher sejak remaja awalnya adalah penggemar lukisan Mona Lisa karya Leaonardo da Vinci. Ia gemar mengumpulkan sesuatu yang berkaitan dengan lukisan tersebut.

Sampai pada suatu hari ia mendengar dari radio, sebuah laporan yang menyatakan bahwa "pisang adalah senyuman alam," sehingga membuatnya berubah.

Dari menyukai Mona Lisa, Bernhard Stellmacher lalu menjadi gandrung dan cinta dengan pisang sehingga ia menyebut dirinya "Bananicus." Bernhard mengumpulkan barang-barang yang berhubungan dengan pisang dan mengoleksinya serta memiliki nama alias yakni "Stelli Banana."

Semua koleksi pisang itu ditampung di ruang bawah tanah rumahnya dan pada 1991 ia membukanya secara publik.

Lebih dari 10.000 artefak pisang telah dikumpulkan oleh Bernhard Stellmacher. Koleksi itu terdiri dari banyak hal terkait pisang, termasuk kondom rasa pisang, rok pisang Josephine Baker sampai dengan sampul album bergambar pisang karya Andy Warhol.

Banyak orang di seluruh dunia yang memahami keberadaan museum pisang itu, mengirimkan parsel yang berkaitan dengan pisang dan diberikan kepada Bernhard agar dikoleksi.

Bernhard memiliki pemahaman pisang dari pijakan yang religius. Ia menganggap "semua orang mengira apel adalah buah pengetahuan. Tetapi ini tidak tertulis di dalam Alkitab. Di sana hanya tertulis, '… dan Hawa mengira buah itu menyenangkan untuk dilihat.' Dan buah yang ceria untuk dilihat bisa jadi pisang."

Pada tahun 2018 lalu, museum pisang itu mengalami kebakaran. Hampir semua koleksi yang ada di dalamnya terbakar. Upaya renovasi terhadapnya diusahakan untuk bisa diselesaikan sehingga museum dapat dibuka kembali.

Menurut pengakuan Bernhard Stellmacher, selama ia membuka museum pisang itu, 75 persen pengunjungnya adalah perempuan. Ia sudah memperkirakan hal tersebut karena pisang hampir selalu identik dengan lingga.

Melansir dari Atlas Obscura, Bernhard tidak terkejut karena secara alami perempuan memang ingin mengetahuinya. Ia berpendapat laki-laki tidak terlalu memiliki perhatian "terutama jika menyangkut benda-benda (berbentuk) lingga. Mereka takut seseorang akan mengolok-olok mereka."

Presiden penggemar pisang

museum pisang, museum pisang internasional, museum pisang amerika serikat
Museum pisang internasional (Wikipedia.org/m01229 from USA)

Jauh sebelum Berhard Stellmacher, di Amerika Serikat sebenarnya sudah ada seorang lelaki yang gandrung dengan pisang. Namanya adalah Ken Bannister. Ia sering membagikan stiker pisang Chiquita yang gambarannya seperti sebuah senyuman kepada orang-orang yang ia temui.

Bannister ini kemudian menyebut dirinya sebagai "Bananaster" dan mendirikan International Banana Club pada tahun 1976 dan mendirikan museum pisang. Ia tak mau disebut sebagai presiden kelompok itu tapi lebih memilih sebagai TB atau Top Banana.

Mungkin bukan suatu hal yang mengejutkan jika ada kelompok penyuka sesuatu, tapi di International Banana Club, jika kisanak ingin berniat bergabung dengan kelompok tersebut, maka ada uang keanggotaan yang harus dibayarkan sebanyak 15 dolar.

Uniknya, ada puluhan ribu orang yang ikut dalam klub tersebut. Setidaknya, International Banana Club memiliki sekitar 37.000 anggota yang terdiri dari 17 negara yang berbeda.

Beberapa tokoh terkenal juga pernah menjadi anggota klub pecinta pisang tersebut, salah satunya adalah Presiden Ronald Reagan. Ia juga menggemari pisang dan menjadi bagian dari klub yang didirikan oleh Ken Bannister.

Para anggota klub pisang ini berkontribusi untuk memberikan koleksi terkait pisang sehingga jumlah artefak yang dimiliki oleh museum pisang lebih dari sekitar 17.000 item.

Museum pisang internasional pada tahun 1999 mendapatkan rekor dunia dari Guinness Book of World Record sebagai museum terbesar yang didedikasikan untuk satu buah saja.

Koleksinya sangat beragam dari mulai ponsel pisang, jam, buku mewarnai, mainan, pemutar rekaman, kostum, tongkat golf, boneka binatang, dan kipas angin gantung. Museum juga memiliki satu-satunya koleksi pisang yang membatu di dunia, yang didapat dari Kentucky.

Pada tahun 2010, koleksi museum pisang internasional ini dijual oleh Bannister di eBay seharga 45.000 dolar. Ia kemudian menurunkan harganya sampai 7.500 dolar.

Fred Garbutt diketahui adalah orang yang membeli koleksi itu tapi tidak menyebutkan berapa jumlah uang sebenarnya yang ia bayarkan kepada Bannister. Koleksi pisang itu kemudian dibawa oleh Garbutt dan diletakkan di kota Mecca, California, Amerika Serikat.

Meskipun pisang memiliki bentuk seperti bibir yang tersenyum dan disebut sebagai buah senyuman alam, tapi pisang pernah menimbulkan petaka. Kisanak dapat membaca informasi menarik mengapa pisang menimbulkan petaka di artikel Berperang Melawan Kulit Pisang

Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Museum Pisang: Pisang Adalah Senyuman Alam"