Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Filosofi Pisang dalam Adat Pernikahan Jawa

Pisang di Jawa tidak hanya sekedar buah untuk dikonsumsi, tetapi juga dimaknai secara filosofis. Dalam adat pernikahan Jawa, pisang berada dalam dekorasi pintu masuk mempelai wanita dan digunakan sebagai sanggan atau hantaran penebusan.

pisang, filosofi pisang, adat jawa, filosofi pisang dalam adat pernikahan jawa
(Pexels.com/SHVETS)

Masyarakat di Jawa telah lama mengenal buah pisang. Ia telah menjadi bagian hidup dan peradaban Jawa. Sampai saat ini, di perdesaan Jawa, tanaman yang seringkali ditemukan disekitar rumah adalah tanaman pisang.

Untuk membuktikan bagaimana pisang sudah menjadi bagian yang lumrah di kehidupan orang Jawa, bisa dirunut ke belakang, sampai tahun 700an Masehi. Masa' sih? Iya betul, sejak tahun 700an Masehi.

Mungkin ada orang yang percaya tapi tidak tahu bagaimana membuktikannya. Mungkin ada orang yang tidak percaya karena entah alasannya apa.

Tapi pada tahun 700an Masehi, sebuah bangunan megah telah mulai dibangun di Jawa, tepatnya di Magelang. Bangunan itu adalah candi Borobudur.

Di dinding candi tersebut, ada relief yang menampilkan banyak citra kehidupan manusia, juga termasuk flora dan fauna. Dan pisang, sudah terukir di relief tersebut. Pisang bersama puluhan tanaman lain telah terukir di relief candi Borobudur.

Ini berarti, saat itu masyarakat Jawa sudah lumrah dengan keberadaan buah satu ini. Selain itu, karena membuat relief sepertinya juga tidak sembarangan, maka pemilihan buah pisang sebagai bagian dari relief candi mungkin juga memiliki arti istimewa.

Pisang dalam kehidupan orang Jawa


Karena pisang adalah tanaman yang lumrah ditemui, maka orang Jawa sudah terbiasa mengonsumsinya. Ragam jenis pisang juga bermacam-macam dan orang Jawa memiliki banyak istilah untuk membedakan nama satu pisang dengan pisang yang lain.

Misalnya, khusus di Jawa Tengah, ada yang namanya pisang Raja Temen, pisang Raja Nangka, pisang Raja Talun, pisang Raja Pendek, pisang Tawi, pisang Kepok Pipit, pisang Kepok Gablok, pisang Kepok Cino dan masih banyak lainnya.

Karena menjadi buah yang biasa ditemui itulah, pisang bagi masyarakat Jawa dapat dibilang memiliki dua fungsi yakni fungsi formal dan informal.

Fungsi formal biasanya pisang jenis tertentu digunakan dalam upacara adat. Sedangkan fungsi informal adalah pisang sebagaimana fungsinya, yakni sebagai kebutuhan manusia seperti di makan atau dijual.

Beberapa jenis pisang tertentu yang digunakan sebagai fungsi formal adalah pisang Raja. Pisang ini menjadi istimewa karena rasanya yang nikmat. Harga jual pisang tersebut juga terbilang mahal ketika dijual.

Pisang dalam dekorasi gerbang pernikahan adat Jawa


Pisang dalam fungsi yang formal, mudah sekali kisanak temukan ketika menghadiri upacara pernikahan adat Jawa. Mengapa mudah ditemui? Karena pisang akan menjadi bagian utama dari dekorasi pintu gerbang di rumah mempelai perempuan ketika acara pernikahan.

Pisang akan dipasang sekaligus bersama dengan pohon dan daunnya, digabungkan dengan tumbuhan lain seperti anyaman janur kuning (daun kelapa yang masih muda), tebu wulung, dan berbagai dedaunan lainnya.

Pisang yang dipasang sebagai dekorasi pintu masuk biasanya adalah Pisang Raja yang sudah masak secara alami atau orang Jawa menyebutnya suluhan. Banyak jenis pisang yang digunakan tapi yang dianggap unggul adalah Pisang Raja Talun.

Pemasangannya biasanya dilakukan di dua tempat yakni di bagian kanan dan kiri pintu gerbang.

Filosofi dekorasi pisang yang dipasang di gerbang pernikahan


Ada beberapa pendapat tentang penggunaan pohon pisang di bagian dekorasi pintu gerbang mempelai perempuan ini. Salah satunya adalah filosofi pisang yang bermakna cinta sejati.

Ini didasarkan pada sifat pohon pisang yang berbuah hanya sekali, yang itu berarti melambangkan filosofi cinta dan kesetiaan.

Dari pohon pisang yang dipasang, ada harapan bahwa sebuah keluarga yang dibangun dari pernikahan menjadi pasangan yang setia seumur hidupnya.

Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa Pisang Raja yang digunakan itu sebagai harapan supaya kelak bisa hidup dengan makmur, layaknya seorang raja.

Ini karena didasarkan unggulnya jenis pisang dan harganya yang relatif mahal dari pada jenis pisang lain, sehingga dapat mendatangkan kekayaan dan kemakmuran.

Lalu kenapa yang dipasang adalah Pisang Raja suluhan? Makna Pisang Raja suluhan adalah bahwa pernikahan tersebut terjadi karena memang kedua mempelai sudah masak atau sudah matang, dan memiliki kelayakan untuk membangun mahligai rumah tangga.

Selain itu, harapan dari Pisang Raja suluhan itu agar kedua mempelai dapat jauh lebih dewasa dalam menghadapi berbagai persoalan ketika mengarungi kehidupan berumah tangga.

Pisang Sanggan dalam upacara seserahan


Selain pisang sebagai dekorasi yang memiliki banyak makna filosofis, Pisang Raja juga digunakan dalam upacara seserahan. Upacara seserahan ini menggunakan pisang Sanggan dan biasa dilakukan dalam upacara adat pernikahan Jawa, khususnya di daerah Yogyakarta.

Pisang Raja yang digunakan jumlahnya dua sisir atau dalam istilah Jawa setangkep, ditempatkan dalam sebuah nampan dan satu paket bersama perlengkapan lain seperti suruh ayu, gambir, kembang telon (bunga mawar, melati, dan kenanga) dan benang lawe.

Pisang Sanggan ini diberikan sebelum pengantin pria panggih (bertemu) dengan pengantin perempuan. Wakil dari mempelai pria membawa masuk membawa pisang Sanggan, melewati pintu gerbang yang didekorasi dengan pisang, dan memberikannya kepada keluarga pengantin perempuan.

Makna dari pisang Sanggan tersebut adalah sebagai tebusan kepada orang tua pengantin perempuan, karena nanti akan dinikahi oleh pengantin pria. Sanggan ini dalam istilah Jawa berarti segala sesuatu untuk menyangga, yang itu berarti pengantin pria akan bertanggung jawab menyangga rumah tangga.

Pisang memang menjadi buah yang biasa di Indonesia, tapi pisang sebenarnya adalah buah yang istimewa. Simak ulasan menarik di artikel Buah Surga Bernama Pisang


Kidung Pamungkas
Kidung Pamungkas Suka membaca, suka menulis, pekerja lepas

Posting Komentar untuk "Filosofi Pisang dalam Adat Pernikahan Jawa"